Hikmah

Krisis ekonomi Global tengah melanda Dunia, dampaknya begitu besar terhadap tatanan perekonomian dunia. Bagaimana solusi yang di tawarkan Islam dalam mengatasi persoalan ini? baca selengkapnya

Senin, 07 September 2009

Ibadah Puasa, Medium Toleransi Berbasis Iman

Paulus Shenouda III, pemimpin tertinggi Kristen Koptik Alexandria, Mesir menulis sebuah artikel tentang puasa di harian
al-Ahram, Mesir (16/9) tentang al-Shawm: Syurutuhu wa fawaiduhu (Puasa: Syarat-syarat dan manfaatnya).

Ia menulis, "Dari hati yang terdalam, saya mengucapkan selamat berpuasa bagi umat Islam di Mesir dan seluruh penjuru
dunia Islam. Yang mana puasa telah merekatkan hati kita, lebih-lebih mendekatkan hati kita dengan Allah.
Mudah-mudahan puasa kita diterima dan diberkahi Allah."

Ucapan itu betul-betul menyentuh relung hati terdalam. Di satu sisi semakin membenarkan firman Tuhan di dalam
al-Quran, bahwa puasa merupakan tradisi agama-agama sebelum Islam. Puasa merupakan medium untuk mencapai
singgasana ketakwaan. Puasa adalah medium toleransi (QS al-Baqarah [2]: 183).

Paulus Shenouda menulis dengan sangat baik tentang hakikat puasa dan maknanya bagi kehidupan sehari-hari. Menurut
dia, puasa pada hakikatnya bukanlah ritual yang membawa keutamaan pada jasad jasmani. Keutamaan puasa terletak
pada upaya seseorang untuk meninggalkan ketamakan duniawi menuju keutamaan ruhani. Dengan demikian, puasa
bukanlah menahan lapar belaka. Puasa lebih dari itu, itu jalan menuju asketisme batin.

Di sini, bilamana seseorang dalam puasanya tidak mencapai puncak hakikat, sesungguhnya ia belum memahami esensi
puasa. Pernyataan Paulus Shenouda di atas menemukan momentumnya dalam tradisi Islam. Dalam sebuah hadisnya,
Nabi Muhammad SAW senantiasa mengingatkan umatnya agar mengenali dan memahami esensi puasa. Ia bersabda,
Berapa banyak orang berpuasa, tapi puasanya hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.

Hadis itu sebenarnya ingin mengatakan, sumber segala masalah adalah ketamakan dunia. Berapa banyak masalah
kemanusiaan yang disebabkan oleh ketamakan akan kekuasaan dan kekayaan. Sebab itu, puasa harus mampu
melampaui ketamakan menuju kebersihan dan kepuasan batin.

Pada hakikatnya ketamakan duniawi tidak akan ada batasnya. Sementara kepuasan batin akan mampu dicapai setelah
mampu melakukan olahbatin, seperti puasa. Puasa akan mengingatkan dan menyadarkan setiap makhluk Tuhan tentang
adanya "yang lain" yang lebih penting daripada "aku" yang tamak dan rakus.

Pertobatan

Di sini, puasa merupakan ajaran yang sangat esensial dalam agama-agama. Sebab agama-agama hadir dalam rangka
melawan ketamakan duniawi yang dilakukan penguasa-penguasa diktator. Yahudi, Kristen dan Islam adalah
agama-agama yang hadir untuk membela kemanusiaan dan melawan ketidakadilan, ketamakan, dan kebiadaban yang
dilakukan penguasa pada zamannya.

Karen Armstrong menyatakan agama-agama merupakan transformasi agung (the great transformation), yang membawa
ajaran tentang kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian. Masalahnya, pemeluk agama sering kali lupa akan esensi dari
agama mereka, yaitu dengan cara menjadikan agama sebagai justifikasi dan legitimasi bagi kepentingan mereka. Karena
itu, pada akhirnya agama jauh dari poros aksisnya.

Shenouda menambahkan dalam tulisannya, puasa tidak akan sempurna bilamana tidak disertai dengan pertobatan.
Bilama seseorang yang berpuasa sudah mampu memahami hakikat puasa, ia akan melakukan pertobatan. Di sini, salah
satu buah dari puasa adalah kejernihan pikiran dan hati-nurani. Puasa akan menyegarkan dan mencerahkan pikiran dan
hati-nurani, sehingga mampu menjadi oase bagi upaya pembangunan masyarakat yang mempunyai keadaban dan
peradaban adiluhung.

Puncaknya, puasa akan mampu membangun kesadaran tentang pentingnya membantu kaum lemah, meningkatkan
kebaikan dan mengetuk pintu sedekah. Setelah puasa naik ke singgasana nilai-nilai ketuhanan, pada akhirnya puasa
turun ke bumi untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

Dalam hal ini, puasa mempunyai keutamaan yang luar biasa. Puasa dapat menjadi salah satu harapan untuk
memperbaiki rapuhnya tatanan kemanusiaan. Di tengah menguatnya ambisi kepentingan yang berbasis bendera
kelompok dan golongan tertentu, puasa diharapkan dapat menjadi kunci utama bagi terbentuknya kesadaran tentang
adanya "yang lain".

Shenouda telah menjadi salah satu contoh penting bagi tafsir otentik terhadap pilar agama. Puasa merupakan common
platform di antara agama-agama agar saling mengingatkan tentang esensi di balik ajaran yang terdapat dalam setiap
agama.

Tradisi Toleransi

Apa yang dilakukan Shenouda dalam tulisannya di atas bukanlah hal baru. Bagi masyarakat Mesir hal itu sudah menjadi
bagian integral dari relasi antaragama. Sudah menjadi tradisi, setiap bulan puasa, pemuka Kristiani khususnya kalangan
Koptik, mengundang kalangan Muslim untuk berbuka puasa di gereja. Begitu pula gayung bersambut dilakukan kalangan
Muslim, yaitu dengan cara mengundang kalangan non-Muslim untuk ikut menyemarakkan acara kebudayaan islami,
seperti forum dialog ilmiah (al-muntada al-tsaqafi), yang biasanya dilaksanakan oleh kementerian urusan wakaf. Tradisi
toleransi semacam ini telah menjadi khazanah kultural yang dapat menjadi batu-bata bagi kukuhnya bangunan toleransi di
Mesir.

Di sini tesis yang menyatakan, pemuka agama merupakan manifestasi dari umat betul-betul menemukan momentumnya.
Pemuka agama merupakan teladan bagi toleransi di tengah keragaman umat. Toleransi pada hakikatnya merupakan
ajaran yang inheren dalam setiap agama, karenanya tidak perlu dikhawatirkan bilamana muncul hubungan dialogis antara
agama-agama. Justru sebaliknya, yang harus dikhawatirkan adalah bilamana agama-agama selalu dikonfrontasikan
dengan dalih sejarah dan pandangan abad kegelapan.

Belajar dari Mesir, tradisi toleransi yang sudah mendarah-daging membuat mereka tidak perlu payung peraturan untuk
membangun toleransi. Sebab esensi agama-agama bukanlah institusi atau kulit luar dari agama, melainkan ajaran-
ajaran yang terkandung di dalamnya.

Di Tanah Air, tradisi toleransi yang bersifat praksis sebagaimana ditunjukkan Paulus Shenouda III di atas, telah mulai
dirintis Sinta Nuriyah. Dengan pelbagai kalangan Kristiani di Bandung, Jawa Barat, ia dundang untuk acara buka bersama
mereka. Hal itu menjadi tanda baik bagi tumbuhnya benih-benih toleransi di masa mendatang. Sebab cara yang demikian
makin memberikan pencerahan pada publik, bahwa dengan puasa keinginan untuk membangun kerukunan dan toleransi
sebenarnya harus senantiasa tumbuh. Puasa pada intinya ingin membangun kesadaran tentang pentingnya menyadari
perbedaan dan melampauinya untuk membangun praksis toleransi.

Dengan demikian, memaknai puasa harus mampu diinternalisasi dalam kehidupan nyata, terutama dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Dalam sebuah negara yang dihuni beragam agama, suku dan afiliasi politik, ajaran spesifik
keagamaan seperti puasa harus mampu menggugah kesadaran publik tentang pentingnya toleransi dalam rangaka
membangun pemahaman yang baik tentang pentingnya pluralisme di dalam negara yang menjunjung tinggi persamaan.

Toleransi berbasis iman seperti nilai-nilai adiluhung puasa akan semakin menyadarkan kita semua, bahwa
agama-agama harus bergandengan tangan untuk mengambil faedah yang sebanyak-banyaknya dari setiap pilar
ajarannya. Lebih-lebih dalam ajaran yang juga dianut dan dilakukan agama-agama lain.

Paulus Shenouda III memberikan teladan baik pada kita, pada hakikatnya agama-agama mempunyai kesamaan visi
tentang pentingnya menjadikan agama sebagai elan vital bagi terwujudnya kemanusiaan di tengah-tengah keragaman
publik.

Toleransi adalah ajaran yang mendarah-daging dalam agama-agama. Sebab itu, tugas setiap agamawan yaitu menggali
ajaran toleransi sebanyak dan sesering mungkin, sehingga pelbagai konflik dan kebencian yang kerap kali digunakan
sebagian kelompok yang mengatasnamakan agama dapat diatasi dengan menggunakan tradisi dan doktrin yang terdapat
di dalam agama. Dengan demikian, agama dapat men-jadi jalan menuju pembebasan dari pandangan dan sikap
intoleran.

Oleh: Zuhairi Misrawi
Penulis adalah Direktur Moderate Muslim Society (MMS); buku terbarunyayang akan terbit, Al-Quran Kitab Toleransi:
Inklusivisme, Pluralisme dan Multikulturalisme

sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/09/20/Editor/edit01.htm

Selengkapnya...

Jumat, 08 Mei 2009

Jadikan Toleransi Sebagai Modal

Para pendiri bangsa telah menciptakan Indonesia sebagai negara yang masyarakatnya penuh toleransi dengan menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai asas dan pedoman hidup bersama.

Keragaman identitas bangsa Indonesia yang sejak awal disadari pendiri bangsa itu kini mulai dinafikan seiring dengan perkembangan dunia yang semakin mengglobal dan kepemimpinan bangsa yang lemah.

Bagi Zuhairi Misrawi, Koordinator Program Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, modal toleransi yang telah dikukuhkan itu masih menjadi toleransi yang pasif. Sebuah bentuk toleransi yang hanya didasari pada kepentingan bersama untuk hidup damai dan harmonis di antara perbedaan agama, ras, suku, budaya, dan bahasa.

Namun, itu saja tidak cukup. Toleransi pasif harus dikembangkan menjadi toleransi yang aktif. Kebersamaan yang telah terwujud harus menjadi modal dan jembatan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan sejahtera.

”Toleransi mampu mewujudkan demokrasi dan menyelamatkan bangsa dari keterpurukan dan kemiskinan,” katanya. Toleransi harus menjadi spirit untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial, politik, dan budaya yang menjerat bangsa Indonesia.

Intoleransi

Namun, kini mulai terjadi kemunduran atas rasa dan semangat kebersamaan yang sudah dibangun. Intoleransi menebal yang ditandai dengan meningkatnya rasa benci dan saling curiga di antara sesama anak bangsa.

Hegemoni mayoritas atas minoritas semakin menebal, menggantikan kasih sayang, tenggang rasa, dan semangat untuk berbagi. Kualitas, visi, dan filosofi mulai dikalahkan oleh kuantitas, arogansi, dan provokasi.

Intoleransi muncul akibat hilangnya komitmen politik untuk menjadikan toleransi sebagai jalan keluar mengatasi berbagai persoalan yang membuat bangsa terpuruk. Bangsa Indonesia tak yakin toleransi mampu menjadi solusi atas problematika hidup berbangsa dan bernegara.

Dalam perspektif keagamaan, semua kelompok agama belum yakin bahwa nilai dasar dari setiap agama adalah toleransi. Akibatnya, yang muncul adalah kecenderungan intoleransi dan konflik.

”Padahal, agama bisa menjadi energi positif untuk membangun nilai toleransi guna mewujudkan negara yang adil dan sejahtera,” ujarnya.

Berbagai perkembangan politik, sosial, dan ekonomi global turut memengaruhi menguatnya intoleransi di Indonesia. Sikap konsumtif masyarakat, termasuk dalam pemikiran, membuat bangsa lebih yakin dengan nilai dan ajaran dari luar negeri dibandingkan dengan kemampuan bangsa sendiri untuk menciptakan nilai yang pas bagi bangsa.

Potensi Indonesia

Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia sebenarnya relatif lebih toleran karena Indonesia memiliki kesepakatan politik dan peraturan yang mengatur tentang toleransi. Namun, kebijakan toleransi itu tidak ditopang dengan nilai toleransi yang cukup. Akibatnya, kesetaraan dan kesempatan yang sama untuk membangun bangsa belum dirasakan seluruh anak bangsa.

Jika menguatnya intoleransi tidak segara diatasi negara, Indonesia dapat menjadi negara zero tolerance yang menafikan keragaman. Berbagai peradaban dunia telah membuktikan pengabaian toleransi dalam kehidupan berbangsa dan kegagalan kebijakan politik melindungi keragaman negara dapat menjadikannya sebagai negara gagal.

Namun, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan mampu menjalankan prinsip-prinsip demokrasi secara damai, Indonesia memiliki modal yang besar untuk mengembangkan pemikiran keagamaan yang konstruktif bagi demokrasi dan toleransi. Ditambah dengan nilai budaya yang beragam, Indonesia dapat menjadi produsen pemikiran Islam moderat dan dakwah yang damai.

Kesempatan itu semakin besar akibat kegagalan negara-negara Barat dalam mengembangkan demokrasi dan toleransi. Klaim atas kebenaran dan kebencian kelompok mayoritas atas minoritas semakin menguat seiring dengan gencarnya perang melawan terorisme global.

Di negara-negara Muslim sendiri, semangat untuk menghargai kelompok lain justru semakin berkurang. Sebagian besar negara Muslim juga masih disibukkan oleh persoalan-persoalan domestik yang mengekang kemajuan yang didambakan.

”Model keislaman di Indonesia yang berhasil membangun demokrasi dalam tataran nilai dan praktis mulai dilirik masyarakat global,” katanya.

Indonesia memiliki institusi mandiri yang mampu menyokong pengembangan pemikiran agama yang moderat. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang memiliki visi kebangsaan yang kuat dapat memainkan perannya.

Pesantren-pesantren yang dimiliki NU serta sekolah-sekolah yang dimiliki Muhammadiyah dapat menjadi basis pengembangan pemikiran yang tidak hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat doktrinal, tetapi juga sejarah, filsafat, dan norma keagamaan. Jika nilai-nilai keagamaan yang dikembangkan lembaga- lembaga itu dirumuskan dalam konteks modern, maka nilai-nilai itu akan menjadi sedekah yang sangat berarti dari umat Islam Indonesia bagi dunia.

Mayoritas-minoritas

Persoalan mayoritas-minoritas selalu mengemuka saat membincangkan toleransi. Namun, hal ini dapat diatasi jika prinsip kesetaraan dikedepankan.

Kesetaraan akan terwujud jika dilandasi semangat keterbukaan yang akan membuka wawasan dan hati serta menghilangkan kebencian dan kecurigaan terhadap pihak lain. Kesetaraan juga akan tercapai jika tiap pihak mengakui perbedaan dengan yang lain.

Negara sebenarnya memiliki tanggung jawab terbesar untuk mewujudkan kesetaraan di antara seluruh warganya. Namun, peran ini belum dijalankan negara dan justru diperankan oleh kelompok masyarakat madani.

Keyakinan Zuhairi atas prinsip kesamaan manusia tanpa memandang identitas tak terlepas dari pendidikannya di pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien, Prenduan, Sumenep, KH Muhammad Idris Jauhari, selalu mengajarnya untuk bebas berpikir dan belajar.

Pergaulannya dengan berbagai kelompok masyarakat lintas agama dan bangsa semakin membuka cakrawalanya akan arti penting toleransi.



Selengkapnya...

Who is Allah?

''Listen, O those who can, to what God desires from you. And what He desires is only that you become solely His and do not associate any partners with Him, neither in the heavens nor on the earth. Our God is that God who is alive even now as He was alive before.



He speaks even now as He used to speak before. And even now He hears as He used to hear earlier. It is a false notion that in these times He does hear but does not speak. But He hears and speaks, too. All His Attributes are eternal and everlasting. None of His Attributes is in abeyance, nor will it ever be. He is the One without any associate Who has no son, nor has He any wife. He alone is the peerless Who has no one like Him. And He is the One Who is unique in that none of His Attributes are exclusively possessed by anyone besides Him. He is the One Who has no equal. He is the One Who has no one to share with Him His Attributes. And He is the One no Power of Whose is less than perfect. He is near, though He is far and He is far, though He is near.

He can reveal Himself to Ahl-e-Kashf in personification, but He has no body, nor any shape. He is above all, but it cannot be said that there is anything beneath Him. He is on 'Arsh, but it can't be said that He is not on the earth. He is the sum total of all Perfect Attributes and He is the Manifestation of every True Praise. He is the source of all that is Good and encompasses all Powers and He is the source of all Beneficences. He is the One to Whom everything returns. He is the Lord of all realms. He possesses every Perfection and is free from all defects, imperfections and weakness. It is His sole prerogative that all those who belong to the earth as well as all those who belong to the heavens should worship Him.

As far as He is concerned nothing is impossible for Him. All souls and their potentialities, and all particles and their potentials are His and only His creation. Nothing comes into existence without His agency. As for Him He reveals Himself through His Powers, His Omnipotence and His Signs. We can attain Him only through Him. He always reveals His Person to the righteous and shows them His Omnipotence—and this is the only means by which He is recognized and by which that way is recognized which is favoured by Him. He sees without physical eyes and hears without physical ears and speaks without a physical tongue. Likewise it is His work to bring a thing into existence from nothingness.

For example, in the visions of dream you see how He creates a world without matter and shows you every mortal and nonexistent being as having existence. Thus are all His Powers. Ignorant is he who denies His Powers. Blind is he who has no knowledge of His profound and inconceivable Powers. He can, and does, everything that He intends to, except those things which violate His Majesty or which are in conflict with His Promises and Verdicts. He is unique in His Being, in His Attributes, in His Actions and in His Powers.

All doors to reach Him are closed except the one door which the Noble Qur'an has opened. And all Prophethoods and all Books of the past are such as now there is no need left to follow them independently. Because the Prophethood of Muhammad (sa) comprises them all and encompasses them all. And except it [the Prophethood of Muhammad (as) ] all routes to God are closed. Each and every truth which leads to God is in it alone. Neither any truth will come after this, nor there was a truth which is not present in it. And for this reason all Prophethoods have ended with this Prophethood. And so it should have been: for a thing which has a beginning must also have an end. But this Prophethood of Muhammad (sa) in its intrinsic beneficence is not deficient. Rather its beneficence far surpasses the beneficence of other prophethoods. Following the Prophethood of Muhammad (sa) is the easiest route through which one can reach God. Obedience to it wins greater gifts of Divine love and Divine communion than ever before.''

Selengkapnya...

Jumat, 01 Mei 2009

Islam

“ISLAM”, adalah sebuah nama yang diberikan oleh Allah kepada agama ini (Quran 5:4), kata Islam berasal dari kosakata Arab yang secara harfiah berarti ketaatan dan damai. ISLAM berasal dari akar kata "SALIMA": damai, kesucian, ketundukan dan ketaatan. Jadi 'Islam' itu berarti jalan orang-orang yang taat kepada Allah dan yang membuat perdamaian dengan Allah dan makhluk-Nya. Yang disebut Muslim.



Islam bukanlah sebuah agama baru. Pesan islam pada dasarnya adalah pesan yang sama dengan pesan dan bimbingan Allah yang telah diturunkan kepada semua nabi sebelum Nabi Muhammad shollallahu ‘alihi wa sallam.
Allah Taala berfirman di dalam Al-Quran: "Katakanlah,` Kami beriman kepada ALLAH dan apa yang telah diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail dan Ishak dan Yakub dan keturunannya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan sekalian nabi dari Tuhan mereka . Dan kepadanya kami menyerahkan diri." (Qur'an 3-84)

Selengkapnya...

Kamis, 13 November 2008

Ahmadiyah Dalam rangka mensyi'arkan Islam : Ahmadiyah kembali membangun Masjid baru di Bradford dan Sheffield


Inilah masjid al mahdi yang terletak di bradford, inggris, yang didirikan oleh komunitas muslim Ahmadiyah di Bradford (foto selengkapnya lihat disini ) Mesjid yang didanai oleh anggota Ahmadiyah ini menelan biaya 2,5 juta euro.

Setidaknya disini dapat kita catat, dalam perkembangannya Ahmadiyah telah mendirikan mesjid Baitunnur di Calgary, propinsi Alberta, Canada pada 2 Juli 2008 – kemudian pada 30 september Ahmadiyah mendirikan masjid Darul Barakaat di birmingham, pada 10 Oktober 2008 masjid Mubarak di kota Saint-Prix, Prancis dan 16 Oktober 2008 Ahmadiyah mendirikan mesjid Khadija yang merupakan msjid pertama di bekas ibukota Negara Jerman Timur, Berlin.


lebih dari 2.000 orang yang hadir dalam acara peresmian masjid tersebut pada tanggal 7 november lalu. Peresmian itu dibuka langsung oleh khalfah Ahmadiyah seluruh dunia, Mirza Masroor Ahmad.

Peresmian yang sekaligus khutbah ini telah disiarkan di 200 negara melalui MTA (Muslim Televisi Ahmadiyah). Mesjid yang memiliki kubah 8 meter ini bisa menampung sekitar 2000 jamaah.

Mesjid yang tepatnya berada Di jalan Rees, Undercliffe, Bradford, inggris membutuhkan 2 tahun dalam pembangunannya.

Dr Bary Malik, juru bicara ahmadiyah bradford, mengatakan: "pintu masjid ini selalu terbuka untuk setiap orang. Kami ingin melakukan sebanyak yang kami bisa bagi masyaratkat dan untuk bradford”

"peresmian mesjid ini berjalan lancar, orang-orang datang dari seluruh negara dan dari jauh seperti dari pakistan kanada dan jerman sengaja untuk hadir dalam acara ini”.

"Ini adalah hari perayaan dan sukacita untuk semua orang dan sekarang kami memiliki masjid yang indah, yang dapat dilihat dari setiap penjuru bradford. Orang-orang menyambut baik pemimpin kami yang datang untuk meresmikan masjid kami"

Abdulla Hayat, ketua Muslim Ahmadiyah Inggris, mengatakan: "Nabi Muhammad saw telah menagajarkan kepada kmi bahwa barangsiapa yang membantu membangun masjid di dunia ini , maka Allah akan membangun rumah untuk mereka di surga.

"masjid-masjid ahmadiyah,dimana saja berada adalah untuk menjangkau masyarakat disekitranya – begitu juga dengan mesjid baru di bradford ini akan bekerja ke arah dialog antar keyakinan, saling pengertian dan menjaln keharmonisan.

"Perdamaian konferensi-konferesnsi perdamaian akan diselenggarakan di sini, sekolah-sekolah akan diundang, dan masjid ini akan terbuka untuk semua.

Peresmian Baitul Aafiyat di Sheffield

Sementara itu selang satu hari yaitu pada tanggal 8 November 2008, Mirza Masroor Ahmad meresmikan masjid Baitul Aafiyat di Sheffield. Disebutkan bahwa makna dari masjid tersebut adalah "Rumah perdamaian dan Keamanan" yang merupakan representasi ajaran sejati Muslim Ahmadiyah. Peresmian ini dihadiri oleh berbagai perwakilan masyarakat setempat. Dalam sambutannya Mirza Masroor Ahmad menyampaikan tentang ajaran Islam sejati yang di dasarkan pada pemenuhan hak-hak Tuhan Yang Maha Kuasa dan pelayanan Keamanusiaan.

Sementara itu sambuatan disampaikan oleh anggota dewan Jane Bird,Walikota Sheffield mengucapkan selamat dalam usaha Ahmadiyah di bidang sosial. Dan mengatakan bahwa dia bangga tingal di Sheffield yang menurutnya kota dimana semua orang bisa tinggal berdampingan,saling menghormati dalam perbedaan kultur dan kapercayaan. Kemudian yang turut berbicara adalah Richard Caborn, anggota Parlemen Sheffield Central. dia mengatakan bahwa baru-baru ini beliau (Mirza Masroor Ahmad) telah memberikan masukan kepada rekan-rekan parlemen di westminster. dan pembicaraannya itu meninggalkan kesan yang mendalam kepada semua yang hadir. Selanjutnya ia mengatakan: "Adalah merupakan suatu kegembiraan bagi saya, dapat berhubungan dengan sebuah agama yang bermotokan: Love for all hatred for none".


Selengkapnya...

Selasa, 16 September 2008

Praktek Puasa Rasulullah SAW



Oleh : Muh Idris

Allah SWT di dalam al-Quran mewajibkan kepada umat Islam untuk berpuasa ketika memasuki bulan Ramadhan. Perintah ini dalam redaksi kalimatnya ditujukan kepada setiap orang yang beriman. Oleh karena itu maksud dan tujuan utama untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.


Allah Taala berkenaan dengan puasa di bulan Ramadhan berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (al-Baqarah [2]:183)
Maulana Muhammad Ali dalam The Holy Quran menjelaskan tafsir ayat ini bahwa puasa adalah perintah Tuhan yang sama universalnya dengan perintah shalat. Akan tetapi Islam memperkenalkan pemahaman yang baru tentang puasa. Sebelum Islam puasa hanyalah dimaksudkan untuk mengurangi makan, minum, dan tidur pada waktu berkabung dan berduka cita. Tetapi Islam menjadikan puasa sebagai sarana untuk meninggikan akhlak dan rohani manusia. Hal ini sesuai dengan firman-Nya la’allakum tattaqûn (supaya kamu memperoleh ketakwaan/menjauhi diri dari kejahatan). Sehingga tujuan dari puasa itu sendiri adalah untuk melatih manusia bagaimana caranya menjauhkan diri dari segala macam keburukan.

Sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan : Puasa artinya menahan diri dari makan, minum dan berjima disertai niat yang ikhlas karena Allah Yang Maha Mulia dan Agung, karena puasa mengandung manfaat bagi kesucian, kebersihan, dan kecemerlangan diri dari percampuran dengan keburukan dan akhlak yang rendah. Allah menuturkan bahwa sebagaimana Dia mewajibkan puasa kepada umat Islam, Dia pun telah mewajibkan kepada orang-orang sebelumnya yang dapat dijadikan teladan. Maka hendaklah puasa itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan lebih sempurna daripada yang dilakukan oleh orang terdahulu, sebagaimana Allah berfirman, “…untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (al-Maa’idah [5]:48)

Oleh karena itu, Allah berfirman, “Hari orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Sebab puasa dapat menyucikan badan dan mempersempit gerak setan sebagaimana hal ini dikemukakan dalam shahihain , “wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu sudah mampu memikul beban keluarga, maka kawinlah, dan barangsiapa yang belum mampu maka berpuasalah karena itu merupakan benteng baginya (HR Bukhari Muslim)

Pada permulaan Islam, puasa dilakukan tiga hari pada setiap bulan. Kemudian pelaksanaan itu dinasakh oleh puasa pada bulan Ramadhan. Dari Muadz, Ibnu Mas’ud, dan yang lainnya dikatakan bahwa puasa ini senantiasa disyariatkan sejak zaman Nuh hingga Allah manasakh ketentuan itu dengan puasa Ramadhan. Puasa diwajibkan atas mereka dalam waktu yang lama sehingga haram baginya makan, minum dan berjima’, serta perbuatan sejenisnya. Kemudian Allah menjelaskan hukum puasa sebagaimana yang berlaku pada permulaan Islam. (Ibnu Katsir, jld 1/h.286-287)

Sehingga untuk dapat memenuhi tujuan dari puasa maka perlu dipahami bagaimana cara Rasulullah SAW berpuasa. Beliau SAW adalah suri teladan terbaik bagi umat Islam, karena syariat Islam diturunkan kepada beliau SAW. Dan beliau lah wujud yang paling mengerti bagaimana harus mengimplementasikan setiap perintah dari Allah SWT. Jadi beliau lah teladan praksis yang sempurna bagi seluruh umat manusia karena beliau diutus oleh Tuhan bukan hanya untuk umat Islam saja melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Di dalam banyak hadits-hadits telah disebutkan dengan jelas, bagaimana cara Rasulullah SAW berpuasa.Nasehat dan petunjuk beliau SAW dalam hal puasa ini diantaranya :
Yang pertama adalah niatkan puasa untuk mencari keridhoan Allah SWT. Hal ini terdapat di dalam hadits muttafaqun ‘alaihi yang meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.
Di dalam hadits ini disebutkan agar puasa yang kita lakukan dapat menghasilkan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu maka syaratnya adalah meniatkan berpuasa hanya semata-mata untuk meraih ridho Tuhan saja.

Yang kedua adalah beliau SAW berpuasa Ramadhan setelah melihat hilal dan mengakhirinya setelah melihat hilal lagi. Hal ini terdapat di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : Berpuasalah kalian jika telah melihat hilal dan sudahilah puasa kalian jika telah melihat hilal lagi. Jika mendung menyelimutu kalian, maka genapkanlah hitungan bulan sya’ban menjadi 30 hari. (HR Bukhari dan Muslim)

Yang ketiga adalah beliau SAW membiasakan untuk makan sahur. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh Anas RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Bersantap sahurlah kalian, sebab di dalam sahur itu terdapat barakah. (HR Bukhari dan Muslim) Salah satu barakahnya adalah tubuh kita menjadi fit dan bugar dalam menjalankan puasa dan kita terhindar dari lemah, lesu dan loyo ketika menghadapi puasa sehingga aktifitas yang lainnya dapat dikerjakan dengan baik.
Dan beliau SAW juga biasa mengakhirkan sahur, sebagaimana terdapat riwayat dari Anas bin Malik (dan dalam satu riwayat darinya bahwa Zaid bin Tsabit bercerita kepadanya) bahwa Nabiyullah dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Tatkala keduanya telah selesai sahur, Nabi berdiri pergi shalat, maka shalatlah beliau. Aku bertanya kepada Anas : Berapa lama antara keduanya selesai makan sahur dan mulai shalat? Anas berkata: Sekitar (membaca) lima puluh ayat.(HR Bukhari)

Yang keempat adalah beliau SAW mengupayakan untuk menyegerakan berbuka puasa. Hal ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mau menyegerakan berbuka. (HR Bukhari dan Muslim). Di dalam hadits yang lain Rasulullah SAW disebutkan sangat menyukai berbuka dengan makan kurma. Berkaitan dengan hal ini, terdapat riwayat dari Sulaiman Ibnu Amir Al-Dhobby bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaknya ia berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya, hendaknya ia berbuka dengan air karena air itu suci. Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim.

Yang kelima sebagian malam beliau SAW habiskan untuk qiyamul lail (mendirikan shalat malam) di bulan suci Ramadhan. Berkenaan dengan hal ini terdapat riwayat hadits, Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau. (HR Bukhari)

Yang keenam adalah beliau SAW selalu menyibukkan diri untuk membaca al-Quran. Berkenaan dengan hal ini terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : saat malaikat Jibril menemui beliau. Setiap kali Jibril menemui beliau pada malam Ramadhan, pasti beliau tengah mentadabburi al-Quran.(HR Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, di dalam bulan suci Ramadhan agar diusahakan untuk menamatkan tilawat al-Quran sehingga berkat dari tilawat al-Quran tersebut dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Yang ketujuh adalah beliau SAW memperbanyak sedekah lebih dari hari-hari biasa. Ibnu ‘Abbas RA meriwayatkan, ia berkata : Rasulullah SAW adalah sosok manusia yang paling pemurah, terutama sekali pada bulan Ramadhan, saat malaikat Jibril menemui beliau. Setiap kali Jibril menemui beliau pada malam Ramadhan, pasti beliau tengah mentadabburi al-Quran. Sungguh tatkala Jibril menemiu beliau, beliau adalah sosok manusia yang paling pemurah dalam mengulurkan kebaikan, bahkan lebih pemurah daripada angina (pembawa rahmat) yang terus bertiup. (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi di dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok teladan kedermawanan bagi kita, akan tetapi di dalam bulan Ramadhan kedermawanan beliau lebih hebat lagi dari biasanya.

Yang kedelapan adalah beliau SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan suci Ramadhan. Hal ini sesuai dengan bunyi matan beberapa hadits berikut ini, diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selalu beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau beri'tikaf sepeninggalnya. (Muttafaq Alaihi)
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila hendak beri'tikaf, beliau sholat Shubuh kemudian masuk ke tempat i'tikafnya. (Muttafaq Alaihi)
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah memasukkan kepalanya ke dalam rumah -- beliau di dalam masjid--, lalu aku menyisir rambutnya dan jika beri'tikaf beliau tidak masuk ke rumah, kecuali untuk suatu keperluan. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Merujuk hadits-hadits tentang i’tikaf ini, sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, maka pelaksanaan i’tikaf adalah mengambil tempat di masjid dan selama i’tikaf, mu’takif (orang yang melakukan i’tikaf) harus tetap berada di masjid sampai waktu i’tikaf selesai.

Yang kesembilan adalah beliau SAW tidak pernah memaksakan untuk tetap berpuasa bagi musafir, orang yang sakit dan sedang menghadapi udzur. Hal ini sesuai dengan hadits-hadits berikut ini, dari Hamzah Ibnu Amar al-Islamy Radliyallaahu 'anhu bahwa dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku kuat berpuasa dalam perjalanan, apakah aku berdosa? Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Ia adalah keringanan dari Allah, barangsiapa yang mengambil keringanan itu maka hal itu baik dan barangsiapa senang untuk berpuasa, maka ia tidak berdosa. Riwayat Muslim dan asalnya dalam shahih Bukhari-Muslim dari hadits 'Aisyah bahwa Hamzah Ibnu Amar bertanya. Di dalam hadits yang lain terdapat pula riwayat dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata : Rasulullah dalam suatu perjalanan, beliau melihat kerumunan dan seseorang sedang dinaungi. Beliau bertanya, Apakah ini? Mereka menjawab, Seseorang yang sedang berpuasa. Maka, beliau bersabda, Tidak termasuk kebajikan, berpuasa dalam bepergian.(HR Bukhari). Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Orang tua lanjut usia diberi keringanan untuk tidak berpuasa dan memberi makan setiap hari untuk seorang miskin, dan tidak ada qodlo baginya. Hadits shahih diriwayatkan oleh Daruquthni dan Hakim.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda berkenaan dengan keutamaan dalam berpuasa di bulan Ramadhan, dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman : Semua amal shaleh anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kalinya, bahkan sampai 700 kalinya, kecuali puasa, sebab puasa adalah milik-Ku dan hanya Aku lah yang akan membalasnya, hal ini dikarenakan seseorang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Oran yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yakni kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika menghadap Rabbnya. Sungguh bau mulut orang ysang sedang berpuasa itu dalam pandangan Allah lebih harum dari minyak kesturi. Puasa adalah perisai. Jika seseorang sedang puasa, janganlah ia berbuat atau berkata yang tidak senonoh. Jika ada seseorang yang memakinya, hendaklah ia mengatakan : Maaf aku sedang puasa. (HR Bukhari-Muslim)
Bulan suci ramadhan adalah bulan yang sangat baik bagi kita berintrospeksi diri. Adanya komitmen untuk bisa menjauhkan diri dari segala macam keburukan dan kelemahan serta menggantinya dengan terus menerus mengupayakan kesucian diri dan banyak mengerjakan amal kebajikan akan dapat meningkatkan kedekatan hubungan dengan Allah SWT. Insya Allah dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, jalan menuju keridhoan Tuhan semakin terbuka lebar. Wa Allah a’lamu bi ash-shawab




Selengkapnya...

Minggu, 27 Juli 2008

Who is Allah?


Who is Allah?

''Listen, O those who can, to what God desires from you. And what He desires is only that you become solely His and do not associate any partners with Him, neither in the heavens nor on the earth. Our God is that God who is alive even now as He was alive before.



He speaks even now as He used to speak before. And even now He hears as He used to hear earlier. It is a false notion that in these times He does hear but does not speak. But He hears and speaks, too. All His Attributes are eternal and everlasting. None of His Attributes is in abeyance, nor will it ever be. He is the One without any associate Who has no son, nor has He any wife. He alone is the peerless Who has no one like Him. And He is the One Who is unique in that none of His Attributes are exclusively possessed by anyone besides Him. He is the One Who has no equal. He is the One Who has no one to share with Him His Attributes. And He is the One no Power of Whose is less than perfect. He is near, though He is far and He is far, though He is near.

He can reveal Himself to Ahl-e-Kashf in personification, but He has no body, nor any shape. He is above all, but it cannot be said that there is anything beneath Him. He is on 'Arsh, but it can't be said that He is not on the earth. He is the sum total of all Perfect Attributes and He is the Manifestation of every True Praise. He is the source of all that is Good and encompasses all Powers and He is the source of all Beneficences. He is the One to Whom everything returns. He is the Lord of all realms. He possesses every Perfection and is free from all defects, imperfections and weakness. It is His sole prerogative that all those who belong to the earth as well as all those who belong to the heavens should worship Him.

As far as He is concerned nothing is impossible for Him. All souls and their potentialities, and all particles and their potentials are His and only His creation. Nothing comes into existence without His agency. As for Him He reveals Himself through His Powers, His Omnipotence and His Signs. We can attain Him only through Him. He always reveals His Person to the righteous and shows them His Omnipotence—and this is the only means by which He is recognized and by which that way is recognized which is favoured by Him. He sees without physical eyes and hears without physical ears and speaks without a physical tongue. Likewise it is His work to bring a thing into existence from nothingness.

For example, in the visions of dream you see how He creates a world without matter and shows you every mortal and nonexistent being as having existence. Thus are all His Powers. Ignorant is he who denies His Powers. Blind is he who has no knowledge of His profound and inconceivable Powers. He can, and does, everything that He intends to, except those things which violate His Majesty or which are in conflict with His Promises and Verdicts. He is unique in His Being, in His Attributes, in His Actions and in His Powers.

All doors to reach Him are closed except the one door which the Noble Qur'an has opened. And all Prophethoods and all Books of the past are such as now there is no need left to follow them independently. Because the Prophethood of Muhammad (sa) comprises them all and encompasses them all. And except it [the Prophethood of Muhammad (as) ] all routes to God are closed. Each and every truth which leads to God is in it alone. Neither any truth will come after this, nor there was a truth which is not present in it. And for this reason all Prophethoods have ended with this Prophethood. And so it should have been: for a thing which has a beginning must also have an end. But this Prophethood of Muhammad (sa) in its intrinsic beneficence is not deficient. Rather its beneficence far surpasses the beneficence of other prophethoods. Following the Prophethood of Muhammad (sa) is the easiest route through which one can reach God. Obedience to it wins greater gifts of Divine love and Divine communion than ever before.''



Selengkapnya...

Esensi Ajaran Islam

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad : "Berbelas-kasihlah kepada sesama hamba-Nya. Janganlah berbuat aniaya terhadap mereka, baik dengan mulutmu atau dengan tanganmu, maupun dengan cara-cara lain. readmore
snapshot
 

Copyright © 2009 by Ajaran Islam